Beranda | Artikel
Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 1 - Muqoddimah
Selasa, 4 September 2012

MUQODDIMAH

Alhamdulilah, segala puji senantiasa kita panjatkan kepada bagi Allah yang senantiasa memberikan limpahan karuniaNya, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau serta seluruh sahabat beliau.

Membela harkat dan martabat sesama muslim merupakan ibadah yang sangat mulia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ رَدَّ اللهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa yang membela kehormatan saudaranya maka Allah akan membela wajahnya dari api neraka pada hari kiamat” (HR At-Thirmidzi no 1931, dan dishasankan oleh At-Thirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Terlebih lagi jika yang dibela adalah harkat dan martabat ulama yang memiliki jasa yang besar bagi kaum muslimin sekelas Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah, seorang tokoh dan pejuang dakwah yang bermadzhab hanbali, yang dengan jasa beliau maka berdirilah kerajaan Arab Saudi yang aman dan tenang dan merupakan satu-satunya negara yang menerapkan hukum dan syari’at Islam.

Pembelaan terhadap beliau –rahimahullah- bukanlah berangkat dari meyakini akan kemaksuman beliau, karena merupakan aqidah yang sangat mendasar bagi setiap muslim bahwasanya tidak ada yang terjaga dari kesalahan kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Berbeda halnya dengan kaum syi’ah yang meyakini bahwa imam-imam mereka adalah maksum -sebagaimana akan datang penjelasannya-). Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata :

مَا مِنْ أَحَدٍ إِلاَّمَأْخُوْذٌ مِنْ قَوْلِهِ وَمَرْدُوْدٌ عَلَيْهِ إِلاَّ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ

“Tidak seorangpun kecuali perkataannya bisa diterima dan bisa ditolak, kecuali penghuni kuburan ini”, Imam Malik mengisyaratkan kepada kuburan Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam.

Bahkan hal ini pulalah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Beliau berkata, “Alhamdulillah aku tidaklah menyeru kepada madzhab seorang sufi atau seorang faqih, atau soerang ahli kalam/filsafat, atau madzhab seorang imam dari para imam yang aku agungkan seperti Ibnul Qoyyim, Adz-Dzhabi, Ibnu Katsir, dan selain mereka, akan tetapi aku menyeru kepada Allah semata, tidak ada syarikat bagiNya, dan aku menyeru kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah beliau wasiatkan kepada generasi awal umat beliau dan juga generasi akhir. Aku berharap untuk tidak menolak kebenaran jika telah datang kepadaku. Bahkan aku mempersaksikan Allah dan malaikat-malaikatNya serta seluruh makhluknya bahwa jika datang dari kalian sebuah kalimat kebenaran maka sungguh aku akan menerimanya dengan tunduk dan patuh, dan aku akan melemparkan seluruh perkataan para imamku yang menyelisihi kebenaran tersebut kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena sesungguhnya beliau tidaklah mengucapkan kecuali kebenaran” (Mu’allafaat As-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab, Al-Qism al-Khoomis (Ar-Rosaail As-Syakhsiyah) hal 252)

Demikian pula yang diyakini setiap salafy bahwasanya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bukanlah seorang yang maksum.

Akan tetapi membela harkat dan martabat syaikh  Muhammad bin Abdil Wahhab dikarenakan jasa dan perjuangan beliau yang sangat besar dalam membela agama Islam. Seorang yang adil dalam memandang tentunya mengetahui bahwasanya syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab adalah seorang ulama yang menjunjung tinggi tauhid dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika dahulu organisasi Muhammadiah, Persis, dan Al-Irsyad dikenal dengan organisasi dakwah anti TBC (Takhayul, Bida’ah, dan Churofat) maka demikianlah sesungguhnya hakekat dakwah yang diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Tidak ada yang beliau serukan kepada masyarakat kecuali untuk meninggalkan takhayyul, bid’ah, dan khurofat. Beliau menyeru masyarakat untuk meninggalkan kesyirikan –dengan segala bentuknya- dan agar kembali kepada sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peribadatan.

Tentunya kita sadar bahwasanya masih banyak masyarakat Indonesia yang belum paham benar tentang kemurnian tauhid, karenanya masih banyak diantara mereka yang terjerumus dalam praktek-praktek kesyirikan, khurofat, dan takhayyul. Betapa banyak masyarakat Indonesia yang hobi dan “demen” pergi ke dukun, hobi menggunakan jimat-jimat, hobi memberi sesajen-sesajen…., masih percaya kepada ramalan-ramalan…masih hobi meminta kepada ruh-ruh mayat-mayat yang sudah dikuburkan…, yang ini semua adalah praktik-praktik yang sejak dulu diperangi oleh organiasai-organisasi wahabi seperti Muhammadiah, Al-Irsyad, dan Persis. Dan TBC itulah yang juga hingga saat ini diperangi oleh gerakan dakwah salafi. TBC itulah yang diperangi oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah dalam dakwah beliau.

Jika kita mempelajari sejarah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, maka kita dapati ternyata tersebarnya TBC di negerinya –Najd- itulah yang membuat beliau berani “tampil beda” mengingatkan kaumnya untuk memurnikan tauhid dan menegakkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kondisi Najd yang penuh TBC tersebut telah digambarkan oleh sejarawan Ibnu Bisyr dalam kitabnya ‘Unwaan al-Majd fi Taariikh Najd”, ia berkata :

“Kesyirikan tatkala itu tersebar di Najd dan selainnya. Banyak keyakinan-keyakinan terhadap pepohonan, batu-batu, kuburan-kuburan, serta pembangunan bangunan di atas kuburan-kuburan. Mencari barokah dari kuburan-kuburan tersebut dan juga bernadzar untuk kuburan-kuburan tersebut. Adanya isti’aadzah kepada para jin, dan bernadzar kepada mereka, meletakan makanan (sesajen) untuk para jin dan diletakan di pojok-pojok rumah untuk kesembuhan orang yang sakit di rumah dan memberi manfaat kepada mereka. Adanya perbuatan bersumpah kepada selain Allah, serta praktik-praktik kesyirikan lainnya baik syirik besar maupun syirik kecil.

Sebab yang menimbulkan itu semua di Najd –wallahu A’lam- adalah bahwasanya orang-orang badui jika mereka masuk ke negeri-negeri tatkala muslim panen maka bersama mereka beberapa lelaki dan para wanita tukang ngobat (*yaitu orang pintar/dukun). Maka jika salah seorang dari penduduk negeri ada yang sakit atau di sebagian tubuhnya maka keluarganya mendatangi sang wanita tukang ngobat yang datang dari kampung badui. Maka merekapun meminta agar menyembuhkan si sakit. Mereka bertanya kepada para dukun tersebut obat penyakit si sakit, maka para dukun berkata kepada mereka, “Sembelihlah ini dan itu di tempat ini dan itu, bisa jadi kambing yang berbulu sedikit atau domba hitam. Hal ini demi untuk  memantapkan keahlian mereka (*para dukun) di hadapan mereka yang bodoh tersebut. Kemudian para dukun berkata kepada mereka, “Janganlah kalian menyebut nama Allah tatkala menyembelih, dan berikanlah kepada si sakit dari sembelihan tersebut sekian, dan biarkan sekian-sekian dari sembelihan tersebut”.

Dan bisa jadi Allah menyembuhkan si sakit sebagai fitnah/ujian dan istidroj. Dan bisa jadi proses tersebut menepati waktu kesembuhan, hingga akhirnya banyak orang yang melakukan hal ini (pergi ke para dukun tersebut), dan lama-kelamaan akhirnya mereka terjerumus pada perkara-perkara yang besar disebabkan oleh hal ini. Sementara tidak ada orang yang melarang mereka dari praktik-praktik tersebut. Maka Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab pun tegar menegakkan amar  ma’ruf nahi mungkar. Sementara para pemimpin daerah-daerah, serta para tukang zolim diantara mereka tidak mengenal kezoliman kecuali kepada rakyat mereka, serta peperangan diantara mereka” (Unwaan al-Majd fi Taariikh Najd 1/33-34)

Inilah sebab tegaknya dakwah syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab di negerinya.

Tentu saja dakwah yang seperti diserukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab akan mendapati tantangan permusuhan. Terutama dari orang-orang yang ibadahnya dibangun di atas TBC. Dalam hal ini khususnya kaum Syi’ah Rofidhoh dan kaum sufiah, yang diantara kedua kaum ini banyak memiliki persamaan dalam perkara TBC, sebagaimana para pembaca yang budiman akan mendapatinya dalam artikel ini. Terlebih lagi  permasalahan pengagungan kepada para wali penghuni kubur dan pemakmuran kuburan dengan peribadatan-peribadatan. Kaum Syi’ah dikenal dengan peribadatan kepada ahli kubur, yang ternyata hal ini diikuti pula oleh sebagian kaum sufi –baik mereka sadari atau tidak mereka sadari-.

Karenanya tidak didapati penentangan yang keras terhadap dakwah salafy wahabi kecuali dari dua kelompok ini syi’ah dan sufiah.

Padahal apa yang diserukan oleh kaum salafy wahabi itulah ajaran Rasulullah. Kaum salafy wahabi hanyalah menyalurkan apa yang diserukan oleh Nabi mereka Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sesungguhnya kondisi kaum syi’ah Rofidoh dan sebagian kaum sufi terhadap ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam perkataannya :

“Barang siapa yang membandingkan antara petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kuburan, apa yang diperintahkan oleh beliau, apa yang dilarang oleh beliau, serta praktik para sahabatnya, dengan kondisi kebanyakan manusia sekarang maka dia akan mendapati bahwa keduanya saling bertentangan dimana tidak akan mungkin bersatu/selaras selama-lamanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sholat ke kuburan (HR Muslim no 972), sementara mereka sholat di kuburan.

Rasulullah melarang menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid (*HR al-Bukhari no 436 dan Muslim no 532), sementara mereka membangun di atas kuburan masjid-masjid yang mereka namakan dengan masyaahid, yang menyaingi rumah-rumah Allah ta’aala.

Rasulullah melarang menyalakan lampu di atas kuburan (*HR Ahmad no 2030, Abu Dawud no 2336 dan At-Thirmidzi no 320), sementara mereka justru mewakafkan harta mereka untuk penyalaan lentera-lentera di atas kuburan.

Rasulullah melarang kuburan dijadikan ‘ied (*HR Abu Dawud no. 2044),  sementara mereka menjadikan kuburan-kuburan tempat perayaan dan tempat-tempat ibadah, mereka berkumpul di kuburan sebagaimana mereka berkumpul tatkala ‘ied, atau bahkan lebih banyak.

Rasulullah memerintahkan untuk meratakan kuburan-kuburan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِيِّ، قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ «أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ»

Dari Abul Hayyaaj al-Asady rahimahullah berkata, “Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata kepadaku, “Tidakkah aku mengutusmu (menugaskanmu) atas apa yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menugaskanku?, Tidaklah engkau membiarkan patung kecuali engkau hancurkan, dan tidak pula kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan” (HR Muslim no 969)

Imam Muslim juga meriwayatkan dalam shahihnya dari Tsumaamah bin Syufay berkata:

كُنَّا مَعَ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ بِأَرْضِ الرُّومِ بِرُودِسَ، فَتُوُفِّيَ صَاحِبٌ لَنَا، فَأَمَرَ فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ بِقَبْرِهِ فَسُوِّيَ، ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا

Kami bersama Fadholah bin ‘Ubaid radhiallahu ‘anhu di negeri Romawi, yaitu di Rudis, maka salah seorang sahabat kami meninggal. Fadholah bin ‘Ubaid pun memerintahkan agar kuburannya diratakan, kemudian ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meratakan kuburan” (HR Muslim no 968)

Sementara mereka berlebih-lebihan dalam menyelisihi dua hadits ini, mereka meninggikan kuburan di atas tanah hingga seperti rumah, bahkan mereka membangun di atasnya kubah-kubah.

Rasulullah juga melarang untuk menyemeni/mengapuri kuburan dan membangun bangunan di atasnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya dari Jabir, ia berkata :

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk menyemen kuburan, duduk diatasnya, dan membangun di atasnya” (HR Muslim no 970)

Rasulullah juga melarang untuk menulis di atas kuburan sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Thirmidzi dalam sunan mereka dari Jabir radhiallahu ‘anhu

نهَىَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَنْ تُجَصَّصَ الْقُبُوْرُ وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهَا وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kuburan disemeni, dan ditulis di atasnya, dan melarang dibangun di atasnya” (HR Abu Dawud no 3227 dan At-Tirmidzi no 1052), dan At-Thirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih”

Sementara mereka meletakan di atas kuburan-kuburan lempengan-lempengan kayu atau batu, untuk mereka tulisi al-Quran atau yang lainnya.

Rasulullah melarang untuk ditambah di atas kuburan pasir yang selain dari kuburan tersebut, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Jabir juga :

نَهَى أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ أَوْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ أَوْ يَزَادَ عَلَيْهِ

“Rasulullah melarang kuburan disemen, atau ditulis padanya, atau ditambah padanya” (HR Abu Dawud no 3228).

Sementara mereka –selain pasir- mereka juga menambahkan batu bata, batu-batu, dan semen/kapur kepada kuburan…

Maksudnya intinya adalah mereka para pengagung kuburan yang telah menjadikannya sebagai perayaan, menyalakan lampu-lampu dan lentera-lentera di atasnya, membangun di atasnya masjid dan kubah-kubah telah menentang perkara-perkara yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Ighoostah al-Lahfaan 1/197)

Lantas apakah salah jika ada wahabi menyeru kepada sunnah Nabi shallalhu ‘alaihi wa sallam?? Lantas apakah jika ada seseorang yang menegakkan sunnah Nabinya lantas dicap sebagai wahabi khawarij??.

Karenanya sungguh indah syair berikut ini :

Ketika aku putuskan untuk beramal sesuai Al-Quran & Sunnah dengan faham As Salafush Shaleh, Akupun dipanggil Wahabi…

Ketika aku minta segala hajatku hanya kepada Allah subhaanahu wa ta’ala tidak kepada Nabi & Wali .… Akupun dituduh Wahabi

Ketika aku takut mengkafirkan dan memberontak penguasa yang dzalim, Akupun dipasangi platform Wahabi

Ketika aku tidak lagi shalat, ngaji serta ngais berkah di makam-makam keramat… Akupun dijuluki Wahabi

Ketika aku putuskan keluar dari tarekat sekte sufi yang berani menjaminku masuk surga… Akupun diembel-embeli Wahabi

Ketika aku mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan jenggot, memotong celana diatas dua mata kaki, …,…., Akupun dilontari kecaman Wahabi

Tapi…!

Apabila Wahabi mengajakku beribadah sesuai dengan AlQuran dan Sunnah…Maka aku rela mendapat gelar  Wahabi !

Apabila Wahabi mengajakku hanya menyembah dan memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala … Maka aku Pe–De memakai mahkota Wahabi !

Apabila Wahabi menuntunku menjauhi syirik, khurafat dan bid’ah… Maka aku bangga menyandang baju kebesaran Wahabi !

Apabila Wahabi mengajakku taat kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam … Maka akulah pahlawan Wahabi !

Ada yang bilang.…. Kalau pengikut setia Ahmad shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari Wahabi, maka aku mengaku sebagai Wahabi.

Ada yang bilang….. Jangan sedih wahai “Pejuang Tauhid”, sebenarnya musuhmu sedang memujimu, Pujian dalam hujatan….!

 
Sungguh terlalu banyak fitnah dan tuduhan dusta yang telah dilontarkan kepada beliau. Diantara tuduhan yang santer ditempelkan kepada beliau adalah

Pertama : Tuduhan bahwasanya beliau telah mengkafirkan seluruh umat Islam yang tidak sepaham dengan beliau.

Kedua : Tuduhan bahwasanya beliau adalah satu sekte yang bengis yaitu sekte khawarij yang telah dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits-haditsnya.

Dua tuduhan inilah yang digembar-gemborkan oleh seorang pendongeng yang menamakan dirinya Syaikh Idahram, dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, mereka membunuh semuanya termasuk para ulama!!!”. Sungguh sebuah judul yang sangat provokatif yang menggambarkan bahwa seorang sosok salafy wahabi adalah sosok yang haus darah kaum muslimin, yang hobi membunuh kaum muslimin bahkan para ulama.

Penulis buku ini menamakan dirinya seorang syaikh…, akan tetapi setelah saya meneliti isi bukunya ternyata dia hanyalah seorang Syaikh pendongeng !!. Para pembaca akan mendapati koleksi kedustaan dongeng dari si idahram ini yang telah saya kumpulkan.

Orang yang mau sedikit berfikir saja sambil melihat kenyataan yang ada maka akan paham bahwasanya idahram ini hanyalah sedang berdongeng. Masyarakat Indoensia telah lama mengenal beberapa organisasi dakwah di tanah air yang berpemahaman wahabi, seperti Muhammadiah, Persis, dan Al-Irsyad. Ketiga organisasi ini telah eksis di Indonesia sejak puluhan tahun lalu hingga sekarang, akan tetapi tidak pernah kita dapati salah seorangpun dari mereka yang haus darah sebagaimana yang digambarkan oleh idahram !!

Demikian juga perjuangan Tuanku Imam Bonjol yang berpemahaman wahabi –dalam perang padri- merupakan kisah sejarah yang telah tercatat dengan tinta emas. Tidak ada satu sejarawan pun yang menggambarkan bahwa Tuanku Imam Bonjol atau salah satu dari pengikutnya “Haus Darah kaum msulimin” sebagaimana yang didongengkan oleh idahram.

Demikian juga dakwah sunnah –yang dikenal dengan dakwah salafy- yang akhir-akhir ini mulai berkembang di tanah air, maka tidak seorangpun dari mereka yang kita dapati haus darah, suka mengkafirkan kaum muslimin, apalagi hobi membunuh kaum muslimin !!!. Lantas dari manakah idahram terispirasi untuk memunculkan kreasi dongengannya??

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

www.firanda.com

Logo

Artikel asli: https://firanda.com/547-membongkar-koleksi-dusta-syaikh-idahram-1-muqoddimah.html